Kesepian yang Kamu Rasakan Mungkin Akibat Terterus Ngoyo Cari Pasangan. Santai Saja, ya~

terlalu-ngoyo-mencari-jodoh-bikin-kesepian terlalu-ngoyo-mencari-jodoh-bikin-kesepian

Danila Riyadi pernah berpendapat bahwa “Banyak di Indonesia yang menikah karena semua lagi pada nikah, bukan karena siap”. Mungkin akurat, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas akurat adalah, ada orang-orang yang memang menjadikan pernikahan sebagai sebuah deadline, sama seperti pengerjaan skripsi atau tesis. Ketika deadline itu terlewati, atau sudah semakin karib tapi target masih berjarak, resah dan panik mulai terjadi.

Proyek mencari jodoh pun dimulai. Entah bagaimana caranya, pokoknya tahun depat dapat pasangan! Berbagai macam cari ditempuh. Mulai dari menjalin hubungan dengan sembarang orang, minta dikenalkan oleh teman-teman dekat, sampai mencobai percomblangan digital. Memang sungguh bahwa jodoh itu perlu dicari. Namun, terterus ngoyo mencari jodoh bisa melaksanakanmu merasa kesepian lo. Berikut beberapa buktinya.

1. Kamu bertemu dengan penuh orang, tapi fokusmu hanya mencari sosok yang potensial. Karenanya kamu tak pernah cocok-cocok menjalin relasi dengannya

Kamu tahu bahwa jodoh perlu dicari, dan karenanya kamu pantas membuka hati. Kamu bersedia berkenalan dengan orang-orang baru dan mencoba penakraban. Namun, karena tujuanmu sahaja satu yaitu menikah, segala interaksi dan obrolan yang terjalin pun selalu menuju ke arah sana. Kamu luar biasa sibuk melakukan “screening” untuk melihat apakah dia berpotensi jadi pasanganmu atau tidak. Sebatas tanpa sadar, kamu tidak pernah cocok-cocok menjalin relasi dengannya. Padahal, bukannya penjajakan itu semestinya pelan-pelan?

2. Kesan ngebet itu bisa melakukan calon potensial mundur perlahan. Maklumi saja, tidak semua orang bisa melangsungkan pernikahan dalam waktu kilat

Ngebet menikah secepatnya, melakukan fokus obrolanmu juga akan kearah sana terus. Dan hal ini selurusnya bisa terlihat lo di mata orang lain. Ketika kamu memulai relasi dengan orang baru, akan sangat terlihat bahwa orientasimu ke arah sana. Memang tidak ada yang keliru dengan menjalin hubungan yang berorientasi serius (bahkan memang seharusnya demikian), tetapi tidak semua orang nyaman dengan hal ini sejak awal-awal hubungan. Ada juga yang memilih pelan tapi pasti, sesantak kesan ngebetmu itu justru melakukannya mundur.

3. Ketika kamu menemui dia yang kamu kencani tak Seimbang ekspektasi, kesepian itu muncul sebab kamu merasa segalanya berulang dan sia-sia

Setelah sekian berlimpah usaha mencari jodoh yang kamu lakukan, titik jelas itu belum terlihat. Kamu belum menemukan seseorang yang benar-benar klik dengan dirimu. Ada beberapa orang yang awalnya cukup cocok dan menyenangkan. Namun, karena satu dan lain hal, ternyata kecocokan itu kandas di tengah jalan. Dan kamu pun mulai merasa ini melelahkan, sebab kamu harus memulai dan mengulang lagi dari awal. Kenapa sulit sekali menemukan seseorang yang bisa dijadikan pasangan ideal padahal target waktumu semakin karib?

4. Ketika kamu menemukan seseorang yang kamu anggap potensial, namun, ia tak punya rasa yang klop, rasa sepimu diperparah dengan kecewa

Namanya juga hidup. Ketika pencarianmu mulai berbuah hasil dan kamu menemukan sosok yang menurutmu sangat cocok denganmu, ternyata dia tidak memiliki perasaan ataupun pikiran yang serupa. Ternyata dia saja menganggapmu teman saja. Dengan ekspektasi dan harapan yang sudah telanjur tinggi, kejatuhanmu sangat terasa. Kekecewaan yang kamu alami ini bisa menjadi tekanan tersenpribadi yang membuatmu kesepian. Mungkin kamu akan berPerdebatan-Perdebatan, kenapa dia tidak punya perasaan yang serupa? Apa kamu tidak layak dicintai siapa-siapa? Sshh … Hilangkan pikiran-pikiran buruk itu. Barangkali dia memang bukan yang tepat untukmu.

5. Berada di antara pasangan yang sedang kasmaran atau obrolan soal percintaan melahirkanmu tertekan. Kamu tak bisa lagi menikmati konkow bersepadan teman

Deadline yang kamu terapkan itu melangsungkanmu merasa dikejar-kejar. Kamu pun menjadi sangat sensitif dan mudah tertekan ketika berada di antara pasangan yang sedang dimabuk cinta. Obrolan soal keluarga dan pasangan di antara teman pun melangsungkanmu tertekan. Dari sini, kamu merasa tak lagi cocok dengan teman-temanmu. Karena itulah, tanpa sadar kamu memilih menghindari dan akhirnya menarik badan dari teman-teman. Kalau sudah begini, sepi yang terjadi karena kamu merasa senbadan itu akan mudah kamu rasakan.

6. Setiap hari yang kamu pikirkan sekadarlah bagaimana mencari pasangan. Aktivitas lainnya tak lagi kamu pedulikan, karenanya hidupmu pun terasa hambar

Bila dipikir-pikir, cinta dan pernikahan sekadarlah luput satu sisi berjiwa. Masih ada sisi lain yang layak dinikmati. Masih ada hobi, pekerjaan, teman-teman, keluarga, dan masih luber lainnya. Namun, karena kamu sekadar terfokus ala satu hal, kamu juga kehilangan minat dengan hal-hal lainnya. Setenggat apa-apa yang kamu jalani dan dapatkan tidak terasa apa-apa selama target pernikahan yang kamu canangkan itu terpenuhi. Padahal ada luber prestasi, kebahagiaan, dan kemenangan yang mungkin saja kamu dapatkan.

Ada pendapat yang berbunyi bahwa seringnya jodoh muncul ketika kita berhenti mencari. Mungkin hal ini ada tepatnya. Santai saja, semua ada gilirannya. Meski kamu belum menikah sementara teman-temanmu sudah, bukan berarti kamu kalah kok.